wahyu agus arifin

Cari Blog Ini

Translation

Free Translation

Selasa, 16 Maret 2010

napza bab 2


PENYALAHGUNAAN NAPZA OLEH REMAJA
A. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyalahgunaan Napza Oleh Remaja
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri. Dalam pembahasan ini faktor internal meliputi :
a. Terbatasnya pengetahuan tentang Napza
Banyak remaja terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba dikarenakan minimnya pengetahuan mereka tentang akibat-akibat yang ditimbulkan oleh narkoba. Sementara orang tua yang seharusnya menjadi pembimbing bagi anak-anak mereka, juga tidak mampu menjalankan fungsinya secara maksimal karena terbatasnya pengetahuan mereka.
b. Agama/keimanan yang minim
Penanaman nilai-nilai keimanan sejak dini pada anak merupakan hal yang paling utama dalam keluarga. Keyakinan yang tertanam dalam diri mereka akan menjadikan mereka berpedoman pada agama yang didalamnya terkandung nilai-nilai kebenaran. Apabila anak sejak dini tidak dikenalkan dan diajarkan nilai-nilai keimanan sehingga mereka minim akan hal itu, maka kemungkinan pada usia remaja mereka cenderung melakukan hal-hal yang menyimpang, diantaranya penyalahgunaan narkoba.




c. Rasa ingin tahu/coba-coba
Sebagai anak muda yang jiwanya masih labil, remaja cenderung mempunyai rasa penasaran terhadap objek-objek yang baru. Mereka berusaha mencoba hal yang baru tanpa memikirkan efek yang terkandung didalamnya.
d. Rasa kebanggaan sebagai anak muda
Sebagai seorang remaja yang beranjak dewasa, tentulah dia ingin mendapat pengakuan dari lingkungan, sehingga mereka melakukan penyalahgunaan narkoba sebagai wujud agar dinilai atau diakui sebagai orang yang hebat.
e. Pelarian diri dari masalah
Biasanya seorang remaja sedang menghadapi masalah yang berat dalam hidupnya, misalnya permasalahan yang disebabkan karena ketidak harmonisan keluarga (broken home), mereka akan cenderung melampiaskan rasa kekesalan dan kemarahannya terhadap hal yamg menyimpang seperti penggunaan narkoba.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu yang dapat mempengaruhinya, diantaranya:
a. Pengaruh teman atau pergaulan
Penyalahgunaan Napza yang dilakukan oleh remaja tak jarang diakibatkan dari pergaulan atau pemilihan teman yang salah. Setia kawan dijadikan dasar yang paling kuat untuk membujuk atau mempengaruhi seseorang. Apabila mereka menolak tawaran cenderung akan dijauhi hingga dikucilkan.
b. Mengikuti mode/gaya hidup
Mode yang merupakan bagian dari gaya hidup, kini seolah dijadikan pedoman kaum remaja untuk berinteraksi dengan lingkungan mereka. Mode yang menyimpangpun seakan tidak lagi dihiraukan. Akibatnya mereka lebih cenderung memilih untuk menjalani gaya hidup menyimpang, seperti penyalangunaan narkoba.
c. Mudah didapat
Tidak jarang kita menemui beberapa jenis narkoba diperjualbelikan dengan mudahnya di diskotik-diskotik, café, warung remang-remang dan tempat hiburan malam lainnya. Hal ini mengakibatkan kebanyakan orang mudah untuk mendapatkannya, baik untuk dikonsumsi maupun diedarkan kembali.
B. Akibat yang Ditimbulkan dari Penyalahgunaan Napza
1. Bagi diri sendiri
a. Fungsi otak terganggu
Kebanyakan para pemakai mudah lupa, daya ingat melemah, sulit berkonsentrasi, sering mengkhayal, dan mempunyai keinginan yang semu. Narkoba juga menyebabkan perkembangan mental terhambat bahkan sampai mengalami kemunduran perkembangan.

b. Keracunan
c. Over dosis
Dapat menyebabkan kematian karena terhantinya pernafasan. Over dosis terjadi karena pemakaian yang berlebihan atau sudah lama berhenti pakai dan memakainya kembali.
d. Keuangan dan hukum
Keuangan si pemakai menjadi kacau, karena harus memenuhi kebutuhannya akan narkoba. Oleh sebab itu si pemakai sering berhadapan dengan hukum karena mencuri, menipu atau yang lainnya.
2.Bagi keluarga
Suasana hidup yang dulunya nyaman dan tentram menjadi terganggu. Membuat keluarganya resah dan malu karena mempunyai keluarga pecandu. Orang tua merasa bersalah, tetapi juga sedih dan marah. Perilaku orang tua ikut berubah sehingga fungsi keluarga terganggu.
3. Bagi masyarkat dan Negara
Masyarakat yang rawan narkoba tidak memiliki daya tahan, sehingga kesinambugan pembangunan terancam. Dan negara menderita kerugian karena masyarakatnya tidak produktif dan kejahatan meningkat.
C. Usaha Yang Dilakukan Untuk Menghindari Penyalahgunaan Napza
1. Benteng agama
Agama sering disebut sebagai pedoman hidup bagi setiap manusia. Jika manusia memiliki pedoman hidup yang kuat, sudah pasti manusia tersebut akan menghindari perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh agamanya. Kita sebagai muslim tentunya sudah mengerti akan keharaman Napza. Oleh sebab itu, agama sangatlah penting dan harus ditanamkan sejak dini.
2. Penetapan hukum yang tegas
Sanksi ialah hukuman bagi orang yang melanggar hukum. Dengan adanya sanksi diharapkan para pelangggar hukum tersebut jera dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.
3. Lingkungan keluarga dan masyarakat yang harmonis
Kebanyakan orang memakai Napza cenderung karena mempunyai masalah pribadi antara keluarga dan masyarakat. Oleh sebab itu, kita harus menjaga keharmonisan keluarga dan interaksi pada masyarakat sekitar agar terhindar dari hal tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

news

Share/Bookmark cuyok.tk (terdepan dalam wawasan) inilah situs yang paling tepat......! Facebook Twitter Google Buzz Delicious Digg Stumbleupon
Linkedin Yahoo! Bookmarks Google Bookmarks Reddit Mixx Technorati

sejarah

REOG Pictures, Images and Photos Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok [1], namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog. Topeng barong reog yang dipakai sebagai atraksi penutup. Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya [2]. Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu. Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan 'kerasukan' saat mementaskan tariannya [3] . Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.
batik Pictures, Images and Photos Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.[3] Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.[4] G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4] Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik. Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2] Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.
Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, Wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan "lagu kebangsaan" di bawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh suratkabar Sin Po. Setelah dikumandangkan tahun 1928 dihadapan para peserta Kongres Pemuda II dengan biola, pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya. Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka ikuti lagu itu dengan mengucapkan "Mulia, Mulia!", bukan "Merdeka, Merdeka!" pada refrein. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan.[rujukan?] Selanjutnya lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan pada setiap rapat partai-partai politik. Setelah Indonesia merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan perlambang persatuan bangsa. Namun pada saat menjelaskan hasil Festival Film Indonesia (FFI) 2006 yang kontroversial dan pada kompas tahun 1990-an, Remy Sylado, seorang budayawan dan seniman senior Indonesia mengatakan bahwa lagu Indonesia Raya merupakan jiplakan dari sebuah lagu yang diciptakan tahun 1600-an berjudul Lekka Lekka Pinda Pinda. Kaye A. Solapung, seorang pengamat musik, menanggap tulisan Remy dalam Kompas tanggal 22 Desember 1991. Ia mengatakan bahwa Remy hanya sekadar mengulang tuduhan Amir Pasaribu pada tahun 1950-an. Ia juga mengatakan dengan mengutip Amir Pasaribu bahwa dalam literatur musik, ada lagu Lekka Lekka Pinda Pinda di Belanda, begitu pula Boola-Boola di Amerika Serikat. Solapung kemudian membedah lagu-lagu itu. Menurutnya, lagu Boola-boola dan Lekka Lekka tidak sama persis dengan Indonesia Raya, dengan hanya delapan ketuk yang sama. Begitu juga dengan penggunaan Chord yang jelas berbeda. Sehingga, ia menyimpulkan bahwa Indonesia Raya tidak menjiplak

FEEDJIT Live Traffic Feed

>

for you by cuyok.tk kamu mau klik disini